Seperti biasa, kepala akan berisik kalau baca buku. Sumber berisiknya sekarang adalah buku Tazkiyatun Nafs yang ditulis sama Said Hawa. Opa penulis sih bilangnya tulisan beliau ini merupakan ringkasan Ihya Ulumuddin punya nya Imam Al Ghazali. Terus alasan menulisnya karena pada masa itu melihat para da'i cuma dikit yang konsen pada pembersihan jiwa umat. Karena dia juga merasa konsen di bidang pembersihan jiwa maka dia merasa dia perlu dan menjadi tugasnya. Ya, dia menganggap ada tanggungjawab untuk tazkiyatun nafs.
Nah, bagian pembuka ini udah mulai ada keberiskan pertama. Seorang Said Hawa adalah seseorang yang bisa membaca keadaan dan dia menyadari potensi yang dimiliki. Kenapa dia melihatnya pada sisi Tazkiyatun Nafs? Karena beliau selama itu mempelajari dan tertarik dengan tazkiyatun nafs. Catatan gede nih buat para da'i terutama, hal apa yang sering membuat kalian merasa itu sebagai masalah? Disitu ada kemampuan yang sebenarnya kalian miliki dan peran yang perlu di ambil. Tidak usah menunggu perintah atau penugasan, sesuatu yang memang itu "adalah kita" dia pasti akan mengganggu pikiran kita. Hal yang selalu mengganggu itu sebenarnya kita memiliki cara dan kemampuan untuk menyelesaikan. Akan ada dorongan alami untuk mempelajari kalau kecenderungan cara melihat solusi dari masalah selalu sama. Tapi...emang butuh peka juga sih sama keadaan. Kayak Opa Said Hawa ini, beliau peka masalah umat apa, karena dia konsen juga pada isu itu.
Kalau hari ini kita masih bingung mau ambil bagian apa dalam ruwetnya masalah umat manusia, bisa jadi belum ada hal tertentu yang sedang coba kita pelajari. Punya pengetahuan luas itu penting, tapi menjadi ahli di satu bidang juga nggak kalah penting.
Oke, kita otw ke berisiknya pikiranku yang kedua setelah baca Tazkiyatun Nafs. Pada bab Sholat. Hmh...saat membaca bagian sholat aku berhenti cukup lama. Meskipun aku melanjutkan bacaan pada bab selanjutnya pikiranku tetap aja ke bab sholat. Sampai terpikir untuk berhenti dulu baca ini lalu beralih ke buku tentang sholat. Setelah membaca ini selalu mencoba untuk full konsentrasi. Memastikan diri hadir dalam sholat dan menanamkan mindset kalau ini lagi menghadap Allah. Nggak boleh main-main. Fokus. Konsentrasi. Dan pada kenyataannya, hal itu bukanlah hal mudah. Masih perlu diusahakan.
Berisik ketiga adalah tentang bagaimana rasa saat melakukan ibadah. Apakah benar karena Allah apa karena pandangan manusia? Ibnu Mas'ud sampai bilang kalau kita membaguskan ibadah karena untuk mendapatkan sesuatu dari manusia maka kita sudah melecehkan Allah. Jahat sih kalimatnya, tapi iya juga sihhh. Allah itu tahu isi hati dan niat manusia. Tugasnya manusia beribadah kepadaNya. Tapi, ternyata dia melakukan semua perintah bukan karena Allah melainkan karena manusia. Haaah dasar manusia apa cobaaa.
Aku jadi sadar sih, emang yang paling kita curigai itu seharusnya diri kita sendiri. Nggak boleh merasa dirinya paling, karena Allah bisa melihat apa-apa yang manusia nggak tahu.
Nah, kemarin diskusi tuu. Eh, nggak diskusi sih lebih ke dapet nasihat. Yang intinya kita perlu menjaga ibadah yang berkesinambungan, hal pertama yang perlu dijaga adalah sholat. Gini alur sederhana penjelasannya
Ibadah -> diterima Allah -> turun Rahmat -> dapet jaminan Allah (dengan tercukupinya semua kebutuhannya).
Nah, sholat ini nanti dapet jaminan berupa bersihnya hati. Tanda-tandanya terlihat dari pengelolaan emosi yang makin namaste. Lalu apakah kalau kita bisa Namaste boleh menganggap ini terjadi karena Allah menerima ibadah kita? Aku rasa enggak ya...apapun yang akhirnya kita dapatkan bukan karena ibadah kita bagus, tapi karena Rahmat Allah. Kalau dari alur sederhana di atas, hal yang bisa kita upayakan adalah selalu memperbaiki ibadah sambil selalu menaruh curiga pada diri sendiri terhadap ketidaksempurnaan penghambaan. Toh akhirnya yang melihat bagaimana kualitas ibadah kita Allah. Cobalah nggak transaksional dalam ibadah. Sholat mah sholat aja nggak usah ngarep apapun. Kecuali satu, Allah Ridha dengan jalan yang kita tempuh.
0 comments:
Posting Komentar